Agak serius dikit ah……… gak ada salahnya kalo sayah mencoba untuk memberikan informasi tentang VCT, secara sayah adalah konselor gadungan VCT yang sudah dipensiunkan secara paksa.
VCT atau Voluntary Counseling and Testing adalah tes HIV yang dilakukan secara sukarela. Karena pada prinsipnya tes HIV tidak boleh dilakukan dengan paksaan atau tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan.
Siapa aja yang sebaiknya melakukan VCT…..
Para homokorang yang melakukan hubungan s*ksual berisiko. Hubungan berisiko ini bukan hanya hubungan dengan pekerja s*ks, g*golo ataupun waria. Hubungan s*ksual dengan orang yang tidak diketahui status HIV nya bisa juga dianggap hubungan berisiko .- Orang yang pernah menerima transfusi darah.
- Pengguna narkoba suntik.
- Orang yang mengalami Infeksi Menular S*ksual berulang.
Apa aja yang dilakukan pada saat VCT?
Ada beberapa tahapan VCT, tahapan pertama adalah pre konseling, pada tahap ini yang dilakukan adalah pemberian informasi tentang HIV dan AIDS, cara penularan, cara pencegahannya dan periode jendela. Kemudian konselor dilaksanakan penilaian risiko klinis. Pada saat ini, klien harus jujur tentang hal-hal berikut : kapan terakhir kali melakukan aktivitas s*ksual, apakah menggunakan narkoba suntik, pernahkah melakukan hal-hal yang berisiko pada pekerjaan – misalnya dokter ataupun calon dokter- dan apakah pernah menerima produk darah, organ atau sp*rma. Konselor VCT biasanya terikat sumpah untuk merahasiakan status si klien. Jadi jangan khawatir untuk mengakui dosa-dosa menceritakan kegiatan-kegiatan berisiko yang telah dilakukan. Hampir kelupaan, pada saat melakukan VCT pastikan konseling dilakukan di tempat tertutup dan menjamin privacy. Dan kalo penilaian risiko klinis dilakukan di muka umum, jangan mau. Karena ada aja konselor brengsek yang mengejar target biar dapet duit.
Kalo sudah selesai pre konseling, konselor akan menawarkan kepada klien apakah bersedia untuk melakukan tes HIV. Jangan khawatir, kalo misalnya ragu-ragu untuk melakukan tes dan tidak mau gak masalah. Konselor tidak akan memaksa klien untuk melakukan tes HIV. Bisa kembali lagi kapan saja. Dan kalo klien mau tes HIV, konselor akan memberikan informed consent atau izin dari klien untuk melakukan tes HIV. di surat pernyataan ini klien menyatakan bahwa klien yang bersangkutan telah menerima informasi yang berhubungan dengan tes ini, HIV dan telah menjalani penilaian risiko klinis. Klien juga menyatakan kalo dirinya bersedia untuk di tes HIV.
Pada saat melakukan tes HIV darah kita akan diambil secukupnya. Dan pemeriksaan darah ini bisa memakan waktu antara setengah jam sampai satu minggu – tergantung jenis tes HIV yang dipakai – Biasanya klien disuruh pulang dan kembali lagi mengambil hasil tes beberapa hari setelahnya.
Kalau klien berubah pikiran dan gak mau ngambil hasil tes terserah, toh konselornya gak akan nyari-nyari kayak debt collector nyari pengemplang utang. Tapi kalo klien memutuskan untuk mengambil hasil tes, klien akan menjalani tahapan post konseling. Pada tahapan ini, konselor akan memberitahukan hasil tes. Kalau hasil tesnya negatif, balik lagi ke penilaian risiko klinis -inilah pentingnya bagi kita untuk menjawab dengan jujur- Kalau dari penilaian risiko klinis, klien masih dalam masa periode jendela – periode jendela adalah periode di mana orang yang bersangkutan sudah tertular HIV tapi antibodinya belum membentuk sistem kekebalan terhadap HIV dan hasil tes HIV nya masih negatif, meski belum terdeteksi tapi sudah bisa menularkan – klien akan dianjurkan untuk melakukan tes kembali tiga bulan setelahnya. Selain itu, bersama-sama dengan klien konselor akan membantu klien untuk merencanakan program perubahan perilaku.
Bagaimana kalau hasil tes positif????
Errr……… terimalah nasibmu *halah*. Becanda ding. Kalau hasil tes positif, klien bebas untuk mendiskusikan perasaannya dengan konselor. Konselor juga akan menginformasikan fasilitas untuk tindak lanjut dan dukungan. Misalnya, jika klien membutuhkan terapi ARV ataupun dukungan dari kelompok orang-orang senasib sebaya. Selain itu, konselor juga akan memberikan informasi tentang cara hidup sehat dan bagaimana cara agar tidak menularkan ke orang lain.
Yang patut diperhatikan!!!!!!
- Hasil tes HIV adalah rahasia yang seharusnya hanya diketahui oleh konselor dan klien saja. Klien dapat menuntut apabila ternyata hasil HIV bocor ke orang lain yang tidak berwenang. Kalaupun klien dirujuk dan artinya informasi tentang status HIV klien harus diberitahukan ke orang lain, harus dengan persetujuan klien.
- Proses VCT yang benar memegang teguh privacy dan juga memastikan kalau klien melakukan VCT dengan sukarela. Kalau anda dipaksa untuk melakukan tes HIV tanpa konseling, jangan mau. Anda dapat menuntut pihak yang memaksa anda untuk melakukan tes VCT.
sumber : Manual pelatihan konselor VCT, Depkes RI






19 tanggapan so far ↓
Ma baru log out nih,, // Juli 30, 2007 pada 9:13 am |
walaah,, Ma pernah nonton di mana gitu ya mbak,, ada dokter yang kena darahnya pasien HIV gitu,,
kalo ampe ternyata positif ngenes juga ya,,
eh btw,, Ma perlu periksa ga ya?? di UGD kan lumayan rentan,,
itikkecil // Juli 30, 2007 pada 9:19 am |
@Rizma
perlu… perlu dan dianjurkan… tapi gak usah vct di palembang, di jakarta aja……. di sini agak error.
langsung suspicious pasti positifnanti hasil tesnya di sebar ke mana manapurmana (males login) // Juli 31, 2007 pada 12:02 am |
emmm mau nanya nih….
kan virus HIV tuh berdaur lisogenik dan salah satu bagiannya adalah fase pembelahan.
Kan pada fase tersebut DNA virus tidak aktif, lalu bagaimana cara mengetahui adanya virus ini bila sewaktu dites kebetulan sedang masa fase pembelahan ??
itikkecil // Juli 31, 2007 pada 12:14 am |
@purmana
euh…. pertanyaan sulit. Dan to be honest, maaf sayah gak tau. Soalnya selama ini saya cuma jadi konselor
gadungan. Pemeriksaan HIV biasanya dirujuk di laboratorium.*ngeles mode on*
sagung // Juli 31, 2007 pada 3:25 am |
Uhuk….uhuk…
maaf mbak, sayah lagi bathuk…thuk…thukk..
uhuk….uhuk…
Berguna sekali artikel kayak gini.
daripada membahas keanehan orang.
itikkecil // Juli 31, 2007 pada 6:40 am |
@sagung
iya memang salah satu tujuan sayah ngeblog adalah untuk sharing informasi juga. syukur-syukur bermanfaat buat orang lain……
Andri // Juli 31, 2007 pada 7:12 am |
bacaannya oke coy lagi dong brew ngebahas yang kaya gini
btw lay out depan motret di mana?
lorensius // Juli 31, 2007 pada 7:25 am |
Bisa juga gak kasih info kira-kira berapa harga obatnya? Soale bentar lagi subsidi untuk itu di stop. Mong-omong, konselor di mana neh ?
itikkecil // Juli 31, 2007 pada 7:51 am |
@andri
makasih….. lay out depan foto halaman Osaka castle
@lorensius
kalo gak salah harga obat ARV sekitar 380 ribu. Masak sih akan distop? Kalo gak salah Global Fund masih bantu kalo untuk terapi ARV.
Dulunyasaya konselor di PKBI Palembangayahshiva // Juli 31, 2007 pada 8:44 am |
kalo dari semua kriteria itu kita terpenuhi tapi mau tes HIV boleh gak
wedulgembez // Juli 31, 2007 pada 9:06 am |
eh tak pikir CVT-nya mio (motor)…kekekek
itikkecil // Agustus 1, 2007 pada 12:24 am |
@ayahshiva
sebenernya ada juga kriteria lain, pernah disuntik atau ditato gak……. bisa aja sih. sekarang kan masih gratis. datang saja ke RSMH ke paviliun Melati.
@wedulgembez
vrap_t // Agustus 27, 2007 pada 8:13 am |
hhmmm.. dapet satu info lage neh..
itikkecil // Agustus 27, 2007 pada 8:22 am |
@prapti
syukur deh kalo berguna….
ryUu iChiRota // Oktober 28, 2007 pada 5:23 am |
ba9uzZZZzz. . .
bR9una Jga…
Saya jadi aware sm pmeriksaan yg tadinya bwt jaga” yg bisa jg brbahaya..
Sering” aja bikin yg kya bgini!!
oma // Maret 9, 2008 pada 7:39 am |
gw pnh vct,bgt bk hsl konselornya protes krn hsl gw ga + !!! gila x tuh konselor n dia maksa2 gw u/tes lg.dg 1001 alesan dia.pdl
itikkecil // Maret 10, 2008 pada 5:34 am |
@Ryuu
makasih
@oma
konselor yang aneh. harusnya dilaporkan saja ke dinkes setempat
Tetap Lindungi Diri dari HIV | En Rollercoaster // November 30, 2008 pada 7:39 pm |
[...] Klik disini untuk tahu lebih lanjut mengenai VCT. [...]
mbelgedez // April 17, 2009 pada 10:56 am |
.
Apakah sayah harus segera periksa ???