Itik Kecil

Merdeka……….

Agustus 15, 2007 · & Komentar

Pada mulanya, aku gak berminat untuk nulis dalam rangka menyambut kemerdekaan Indonesia. Untuk apa…. toh banyak blogger akan menuliskan tema yang sama. Dan pagi ini saja kulihat sudah ada yang nulis di sini, di sini dan di sini. Tapi dari hasil obrolan dengan Caplang di ym kemarin, aku terpikir untuk menulis tentang kemerdekaan dari sudut pandang yang lain. Tapi ada disclaimer dulu sebelumnya ya…..

Yang ditulis di bawah ini adalah pendapatku pribadi, bukan pendapat ataupun kebijakan UNFPA Sumatera Selatan :mrgreen:

Pada awal tahun 2007, komunitas AIDS di Indonesia dikejutkan dengan distopnya bantuan oleh Global Fund. Alasannya adalah ditemukannya mismanagement dalam pengelolaan dana Global Fund di Indonesia. Selain itu ada juga konflik kepentingan yang dianggap membuat dana yang disalurkan menjadi tidak tepat sasaran.

Sebagian besar kegiatan pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia masih didanai oleh pihak luar. Beberapa di antaranya adalah lembaga donor seperti UN agencies, dan LSM Internasional. Ada juga lembaga yang didanai oleh negara yang bersangkutan seperti USAID dan AusAID. Global Fund sendiri adalah lembaga internasional yang dibentuk dalam rangka memerangi tiga penyakit paling mematikan, HIV/AIDS, malaria dan TBC.

Di Indonesia, beberapa kegiatan Global Fund adalah membantu VCT gratis di beberapa klinik dan rumah sakit. Selain itu, Global Fund juga memberikan subsidi untuk terapi ARV bagi ODHA. Dengan dihentikannya bantuan ini, beberapa klinik dan Rumah Sakit sempat bingung karena VCT gratis tidak ditanggung lagi. (terapi ARV sih sampai saat ini masih). Di Palembang tadinya ada tiga rumah sakit yang melayani VCT gratis. RS Muhammad Husin, RS RK Charitas dan RS Ernaldi Bahar. Karena sampai saat ini belum ada kabar dari Global Fund, hanya RSMH yang masih melayani VCT dan tidak gratis lagi. di milis aids-ina sudah ada beberapa orang yang teriak-teriak karena kehabisan ARV.

Kenapa ini bisa terjadi? jawabannya simpel, karena kita masih menggantungkan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS dari bantuan pihak luar. Saat ini KPA Nasional memang sudah mulai bergerak. tetapi sebagian besar dananya dari mana???? Hanya KPA sendiri yang bisa menjawab. Tapi setahuku, sampai saat ini KPA masih mendapat bantuan dari UNAIDS.

Masih ada yang mengatakan padaku…. untuk apa ngurusin orang yang terkena HIV. Pasti itu karena perilaku mereka yang buruk, pengguna narkoba ataupun gay dan pekerja seks. Itu dulu…. sekarang, HIV dan AIDS sudah mulai masuk ke populasi umum. Data terakhir di sini menunjukkan dari 9689 kasus sampai dengan Juni 2007, ada 155 yang penularannya dari transmisi perinatal (tanya cakmoki dulu ah….). Ini membuktikan kalau bukan hanya orang yang berisiko yang bisa tertular HIV. Bayi yang tidak berdosapun bisa terinfeksi HIV. Jadi HIV itu bukan masalah moral lagi….

Suatu saat donor akan pergi. Tapi kasus HIV dan AIDS akan semakin banyak. Aku pribadi tidak ingin suatu saat Indonesia menjadi seperti Afrika Selatan di mana 30% populasi terinfeksi HIV. Indonesia akan bangkrut karena dana APBN nya akan habis cuma untuk mengurusi orang HIV saja.

Salah satu kasus yang menarik adalah USAID. dulu USAID melalui Aksi Stop AIDS banyak melakukan program pencegahan ke kelompok berisiko di Indonesia. Tetapi pada saat Amerika dipimpin oleh mbah George Bush, arah kebijakannya berubah. USAID mulai mengurangi bantuan ke kelompok beresiko. Hal yang sama juga terjadi pada UNFPA. Dulu Amerika banyak memberikan bantuan dana kepada UNFPA. tetapi sejak peristiwa 911, dana yang tadinya dialokasikan untuk UNFPA dialihkan untuk memberantas terorisme. Jadi ingat surat Dr Steven Sinding pas tau mbah Bush terpilih untuk kedua kalinya… :D . Di surat itu, intinya kita seharusnya berduka karena George Bush terpilih lagi…

Gak tau deh kenapa nulisnya jadi muter-muter gini…. tapi the point is jangan terlalu bergantung dengan donor asing. katanya Kita sudah merdeka 62 tahun. Itu artinya seharusnya juga kita juga merdeka dalam menentukan arah penanganan masalah AIDS di Indonesia. Tidak lagi tergantung pada donor. Menerima bantuan boleh saja soalnya kalau tidak pekerja di donor seperti saya akan kehilangan pekerjaan :mrgreen: , tapi jangan jadikan bantuan itu sebagai sumber utama dalam penanganan masalah ini. Dan juga, demi nama baik Indonesia, kasus seperti Global Fund itu jangan terjadi lagi. malu-maluin, hanya ada satu negara yang distop bantuannya oleh Global Fund. Chad, di Afrika sana.

 

 

Kategori: My Job · opini

22 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar