Ada kategori baru di blog ini : curhat of the day menambah keyakinan saya kalau blog ini memang bener-bener blog yang gak penting.
Berkaitan dengan postingan saya yang terakhir, ada satu komen yang membuat saya benar-benar merasa ditabok dan akhirnya merenung. Komennya dari tante silly yang tercinta ini :
Tikk… yakin gak anak ini gak punya Kebutuhan khusus, lets say AUTISM (ADD, ADHD, PDD Nos, Asperger dsb) atau mungkin Mental Retardation (MR), tapi tidak terdeteksi, atau malah merupakan anak yg dibuang oleh keluarganya, karena “tidak diinginkan”
Kalo iya, well, kasihan sekali anak itu… Boleh gak mbak itik menghubungi lembaga sosial terdekat… Anak2 berkebutuhan khusus itu perlu ditolong… kasihan, masih mending anak jalannan yg normal, mereka masih bisa belajar mandiri… Kalo yg memang punya kekurangan… agak sulit bagi mereka untuk bertahan, jangan2 malah jadi mangsa para lelaki penyuka anak2 (pedofilia???) diluar sana… Duhhhh…
kalo nggak… email aku dech mbak, saya coba bantu… menghubungi yayasan sosial setempat.
Big step start from our tiny little step… That’s how we change the world.
salam,
silly
saya akui kalau saya sedang tergila-gila dengan fotografi. semua hal yang menurut saya menarik untuk saya foto pasti akan saya foto. biasanya saya lebih tertarik mengabadikan landscape. tetapi sekarang minat saya juga bergeser ke arah human interest.
Tapi komentar dari mbak silly yang sungguh mulia itu membuat saya sadar kalau ternyata saya hanya menganggap anak ini sebagai objek foto, tidak lebih dari itu. iya sih, kalau seandainya duitnya kemaren kurang untuk beli eskrim dengan sukarela saya akan mencukupi kekurangan uang itu. tapi gak lebih dari itu. Tidak terpikirkan sama sekali dengan apa yang disampaikan oleh mbak silly itu.
Saya khawatir nantinya saya akan menjadi orang yang tidak bisa berempati lagi dengan orang lain, tidak peduli dengan kebutuhan orang lain. Terus terang saja, saya takut.
Ah, benar-benar curhat yang tidak penting…
Note : Komen belum akan saya balas, mau pulang dulu, mendadak sakit kepala dan muak dengan kemunafikan di dunia nyata termasuk diri saya sendiri







85 tanggapan so far ↓
cK // Mei 23, 2008 pada 5:57 am |
wah sekarang ada COTD. nyaingin POTD (Picture of The Day) saya ya?
edy // Mei 23, 2008 pada 6:00 am |
bused ada yg hetrik sembarangan
saya juga mobikin COTD
Caplang Of The Day hyahahaha
eMina // Mei 23, 2008 pada 6:06 am |
*ngakak dulu baca komen mas edy caplang*
hm, saya juga sering merasa kayak gitu kok mbak
merasa tak bisa berbuat apa -apa.
tapi, khusus bagi mbak yang hobi fotografi, saya jadi salut.
dulu mina jg sempat menggilai fotografi walau tak pernah foto -foto krn ga punya kamera.
Tapi, foto itu bisa mengabadikan apa yang tak bisa kita tangkap semua dengan memori ingatan kita mbak.
dan kata sebuah slogan di koran, foto bisa lebih banyak berbicara ketimbang kata -kata.
Saya salut pada para fotografer dunia terutama yang bergelut di bidang fotografer perang, mereka mengabadikan peristiwa demi misi kemanusiaan, dan walau terbersit rasa bersalah di hati mereka saat melihat orang sekarat, karena tak mampu menolong hanya mampu memfoto. Lalu mereka sampaikan duka perang itu kepada dunia.
Nah, kklo niatnya sudah baik seperti itu, tak apa -apa kan?
tentunya diiringi dengan action yang nyata juga saat dihadapkan pada masalah2 seperti itu.
cK // Mei 23, 2008 pada 6:07 am |
hmm…sebenarnya bukannya kita gak peduli, mbak. tapi kita sudah terlalu sering melihat yang seperti itu dan bingung sendiri apa yang harus kita lakukan dalam menanggulangi masalah seperti anak-anak jalanan.
setahu saya anak jalanan itu ada big boss-nya.
*tau hal ini dari shitnetron jaman dulu*
atau bukannya gak peduli, tapi terlalu sibuk..
*alesyan*
grace // Mei 23, 2008 pada 6:13 am |
@ tante chika
saya setuju soal yang terlalu sering liat kondisi gini..
tapi sebenernya sih itu ga jadi masalah buat nolong ya..
tapi gimana nolongnya dong?
*bingung sndiri*
takochan // Mei 23, 2008 pada 6:48 am |
iya mbak, entah karna terlalu sering ato memang sudah terdoktrin *halah* soal ini, “kacamata” saya sering kabur dalam memandang masalah kayak gini. Menyamaratakan saja, baik anak jalanan ato pengemis, bahwa sering ada oknum di balik “ketidakberdayaan” mereka.
Ketidakpedulian? mungkin
Dan akhirnya saya cuma bisa bersikap terserah saja, terserah kalo mau bantu ya bantu, kalo gak ya sudah, asal jangan mengambil keuntungan dari masalah semacam ini.
eniwei, saya salut sama pemikiran mbak silly itu
ulan // Mei 23, 2008 pada 7:31 am |
*oon mode on*
kalo surabaya lembaga begituan dimana ya mbak??
*oon mode still on*
suandana // Mei 23, 2008 pada 7:45 am |
takut tidak punya empati lagi kan berarti masih punya empati???
Semangat, Mbak…
Silly // Mei 23, 2008 pada 7:48 am |
PS :.. COMMENT PANJANG BANGET ALLERTTTT!!!!
Ahhh, koment saya dijadikan posting.. Haduh, terharu saya… Makasih loh, itik goreng, ehhh… ituk kecil.
Begini…
Pertama, maaf banget, saya tidak bermaksud menabok itik kecil… Sumpahhhh… Maaf yach tik… Semua itu mengalir begitu aja ketika kemarin liat posting itu, gambar anak tanpa pakaian, tiba2 membangkitkan rasa sayang dalam hati saya buat anak itu… apalagi dengan celana robek plus tulisanmu tik, (aku quote yach…)
“Tanpa bicara sepatah katapun, hanya meletakkan uang lecek senilai dua ribu rupiah dan meloncat-loncat.”
Yang muncul dalam benak saya pertama kali adalah… ANAK INI PASTI PUNYA KEBUTUHAN KHUSUS!!!!… bahkan mungkin anak yg dibuang dari keluarga karena “tidak diinginkan”… saya mesti berbuat sesuatu buat anak ini, tapi apa???…
Begitu pedihnya hati saya karena merasa Helpless,.. tidak bisa menolong bocah malang ini… Ditambah pas baca comment2 dibawahnya, ada beberapa yg bilang lucu banget… ada yg ngetawain… ada yg bilang bagus, bisa diduitin dsb… walaupun tidak sedikit juga yg simpati dsb…
Hmmm, saya tidak bermaksud menyalahkan siapa2… beneran dech… tiap kita memang mempunyai cara pandang yg berbeda… dan saya mencoba mengemukakan apa yg ada dibenak saya… semua mengalir ajah tik, jadi gak bermaksud menghakimi yach… Punten atuh yahhh…
Terlepas dari apakah anak2 ini ada yg “jadi big boss”-nya atau tidak… saya lebih memilih untuk take some action first… Dulu… (mumpung belum ada anak yg ngelendotin saya…) saya suka ngikutin anak2 ini… kalo ternyata emang anak ini bermasalah, ya saya laporin ke dinas sosial setempat… selanjutnya saya memang tidak tahu lagi kabarnya… but AT LEAST… I do something for this kid.. Saya pikir didaerahpun pasti ada lembaga sosial yg mengurusi anak2 terlantar… apalagi punya Special Needs.
Makanya kalo boleh, saya menggugah, tidak hanya buat itik kecil… buat semua dech… Please… mari kita asah kepekaan mata kita… terlebih mata hati kita… kalau melihat anak2 yang punya KEBUTUHAN KHUSUS, untuk kita rangkul, kita tolong dan kita tuntun ketempat yg lebih aman buat dia.
Sekali lagi.. buat anak2 normal… Mereka bisa survive dijalanan, karena mereka bisa beradaptasi dengan lingkungan… ditempa oleh kerasnya lingkungan…
Tapi anak2 ini… yg memang hanya hidup dalam dunianya sendiri… tidak aware sama bahaya yg bisa menimpa dia kapan ajah… Duhh… anak2 ini sungguh sangat butuh uluran tangan orang2 seperti kita.
Mbak itik jangan menyesali diri terlalu dalam.. You’ve done your best tik, cuma mungkin belum terlalu peka sama object yg kamu capture… Setidaknya picture ini begitu menggugah orang untuk berbuat sesuatu…
Big things is start from our very tiny little step mbak itik… Like you did yesterda… So, don’t blame your self too much yach… You’re the best..
Sini… silly peluk2… besok2 main ketempat silly jangan muntah lagi yach, hahahahahahahahahahaha…
salam hangat dan peduli anak jalanan,
Silly
emyou // Mei 23, 2008 pada 7:52 am |
*merenung dulu*
KiMi // Mei 23, 2008 pada 8:05 am |
Mengerikan kalau rasa peduli itu sudah hilang dari kita…
ayahshiva // Mei 23, 2008 pada 8:07 am |
saya pun kalo liat anak jalanan serba salah, dikasih salah dikasih juga terkadang merasa salah.
soalnya kalo dikasih tuh uang pasti bakal disetor ke siapa pun yang menyuruhnya untuk meminta
kalo gak dikasih dianya pasti dimarah karena gak dapet hasil
ika // Mei 23, 2008 pada 8:16 am |
wew,,bener tik,saya juga tak pernah terpikirkan hal itu,,dalam sekali memang pemikiran bu silly..
Nike // Mei 23, 2008 pada 8:18 am |
Akan selalu ada kemiskinan dan kelaparan.
Akan selalu ada yg kaya dan yg miskin.
Gimana ya? bingung juga..
Au' // Mei 23, 2008 pada 8:31 am |
#Silly : Speechless mode on (daku)
Silly // Mei 23, 2008 pada 9:05 am |
Ehh, sedikit lagi… sapa tahu saya aja yg terlalu peka… bisa jadi anak ini cuma anak kecil biasa… “Just like any ordinary kids tik… jadi jangan terlalu dimasukin ke hati”…
Ohya, pernah tahu Kevin Carter, pemenang pulitzer atas foto kontroversialnya yg memoto anak kelaparan yg nyaris meninggal, dan senang ditunggu kematiannya oleh seekor burung Nazar yg laknat… Cerita lengkapnya disini
Duhh, miris bacanya… Itik juga bisa baca
dipostingnya nenyok disini
Nahhh, kesadaran mbak itik ini justru langkah awal yg bagussss banget lohhh. Jadi betul bahwa, everybody makes mistakes… (kalo emang ini mau disebut mistakes… walaupun saya malah merasa tidak)… Even me… makes mistakes… tapi kita bisa berkaca dan belajar banyak dari sana bukan???
Kita sekarang sedang sekolah tik, dari kehidupan disekeliling kita… dan justru peristiwa2 benini ini yg bikin kita naik kelas…. ASALLLLL, kita mau belajar…
Kalo gak mo belajar, ya kelasnya disitu2 ajahh, hehehe
Salam hangat lagi, and big hugs again…
Silly yg imut2 (hahahahaha)
Silly // Mei 23, 2008 pada 9:13 am |
hetrixx ahhh… cuma mo bilang… “IKAAAAAA, jangan panggil gue IBUUUUU… sejak kapan silly kawin ama bapak kamu, hahahahahahahahahaah… (setannya keluar!!! )
Pake mbak juga gapapa… asal jangan Ibuuu, gue gak enak sama nyokap… ntar dia nongol nanya… “Sapa… Sapa yg manggil saya… ”
Tuhh… mending Silly ajahh, kalo gak mbak silly biar kesannya saya tuaan dikit dari situ… hahahahahahaha…
Itikkkk… maafkan aku hetriks diblogmu yg cantik ini yach… ini pembalasannku karena kamu selalu muntah
kalau saya narsisdiblogku…ManusiaSuper // Mei 23, 2008 pada 9:21 am |
Mau membantu saja kok ya repot ya? pake mikir dulu, ini bantuan ntar disalah gunakan apa nda, ini duit apa ntar dipake buat beli yang halal apa yang haram…
Kalau saya biasanya, belum membantu sudah sombong… payah ya?
JoEy D`JuVe // Mei 23, 2008 pada 10:46 am |
Aku goalin satu ajah… 2 nya lagi assist !!! hehehe ga nyambung…
Abeeayang™ // Mei 23, 2008 pada 10:50 am |
sayah cumang bisak…..Quote Of The Days….
lanjutin yaks….
cukopara // Mei 23, 2008 pada 10:54 am |
sebuah dampak metropolisasi Palembang, kah?
edratna // Mei 23, 2008 pada 11:36 am |
Memang menjadi serba sulit, karena sebaiknya memang diorganisir kalau mau membantu. Jadi ingat saat sehabis tsunami, saya dapat sms, untuk membantu anak korban tsunami, siapa yang mau menolong. Akhirnya banyak sekali yang mau menolong, dan ternyata harus melalui aturan main, dan sebaiknya diasuh oleh keluarga terdekatnya dulu jika masih ada.
Beberapa teman saya tak punya anak, dan adopsi…melalui proses yang panjang, dan diikuti. Komentar mbak Silly ada benarnya, tapi tetap harus melalui aturan main yang benar…siapa tahu pas lagi jalan-jalan di Palembang ketemu anak itu lagi.
goop // Mei 23, 2008 pada 11:36 am |
Ada senarai yang menjaraki antara sebuah gambar dengan kesadaran di belakangnya. Gambar bisa berbicara, dan bukan salah ambil gambar, apalagi yang melihat.
Hanya sebuah gambar, atau gambar yang berbicara. Marilah mendengar suara-suara, kata-kata gambar!
nenyok // Mei 23, 2008 pada 12:39 pm |
Salam
Ah itik kecil, soal hobby fotografimu tentu ndak salah, malah akhirnya efeknya bagus kan dengan adanya comment silly toh akhirnya terbangun kesadaran baru, bahwa fhoto itu mempunyai makna lebih di dalamnya.
Btw ini memang dunia liar, yang seperti itu banyak, dan seringkali kita memang bingung dibuatnya, entahlah siapa menyalahkan siapa ga penting, yang penting ada kepedulian walau hanya rasa miris di hati
Raffaell // Mei 23, 2008 pada 3:03 pm |
Aku juga suka bikin postingan curhat, aku taro di category blog, bagiku blog = curhat.. ehehehe
danielc094n // Mei 23, 2008 pada 5:59 pm |
masih banyak juga orang yang peduli dengan kaum seperti itu…
salut buat mbak SillyItik…:))
goldfriend // Mei 23, 2008 pada 6:17 pm |
Dengan memotret, kamu sudah menunjukkan bahwa masalah itu benar-benar ada dan bukan sekedar angka statistik belaka. Jangan bersimpati, Ra, tapi berempati. Berempati tidak membuat kamu hanyut karena terikat secara emosi dengan sesuatu. Dengan memotret dan menampilkan di blog, setidaknya kamu sudah berempati terhadap masalah itu, meskipun tidak terjun kedalamnya secara langsung.
Lha, dengan mengurusi masalah HIV/AIDS saja, itu sudah menunjukkan kalau ada empati dlm dirimu. Saya sendiri keluar dari situ dulu karena tidak tahan menghadapinya.
Dan sudah banyak orang yang terpengaruh atas tulisan ini.
NdaruAlqaz // Mei 24, 2008 pada 12:14 am |
dulu pas saya masih dikampung, denger perampokan dikit aja saya langsung ngeri. pas ada pengemis, langsung lari ke kamar ngambil lembaran uang kertas.
sekarang setelah menghirup udara kota, ada tetangga yang dibunuh saja cuma komentar “ah, biasa”. da pengemis datang, paling cuma ngerogoh kantong memberi keping seadanya, bahkan kadang seperti lagak selebriti, “no koment” alias males ngasih….
apakah polusi udara kota sudah meracuniku separah ini…
Ngomong soal lilin kah? « ndarualqaz // Mei 24, 2008 pada 12:18 am |
[...] terkait : menungso super, anak bebek, bang udang kering, Neng swiwi, kodok cerewet, dingin [...]
ichanx // Mei 24, 2008 pada 4:25 am |
emmppphhhh… speechless…….
ZEe // Mei 24, 2008 pada 4:47 am |
Memang yang namanya terbiasa itu lama2 bisa buat mati rasa. Sama kayak kata ndaru di atas, jaman dulu rasanya ngeri bila dengar ada tindakan kriminal. Tp skrg kok kayaknya biasa aja, krn hampir setiap hari selalu ada tindak kejahatan.
Jd memang musti sering diasah kembali mata hati kita utk selalu bisa berempati.
natazya // Mei 24, 2008 pada 5:27 am |
aduh aduh aduh….
ada apa bu?
muak dengan segala kemunafikan di dunia nyata… hm… jangan lama lama
karena dunia belum akan berubah
kitanya yang harus terbiasa…
AngelNdutz // Mei 24, 2008 pada 5:34 am |
haduw Ndutz jg jd sadar nih….bysanya Ndutz cuman ngasih recehan gak sampe intens nelpon dinas sosial…
Uda uda Bu…jgn nangis…
sofianblue // Mei 24, 2008 pada 10:09 am |
Mampir kesini berkat mbak Silly dengan COTD-nya.
Sawali Tuhusetya // Mei 24, 2008 pada 10:11 am |
bersabar, mbak tik, saya kira sikap empati kita kok ndak akan hilang hanya lantaran mengambil gambar mereka. asal nawaitu dan niat kita utk mempublikasikan mereka agar makin banyak orang yang bersimpati terhadap nasib mereka, wew… kenapa kita mesti risih?
amaliasolicha // Mei 24, 2008 pada 10:27 am |
setuju ma komen diatas (35)
harriansyah // Mei 24, 2008 pada 1:05 pm |
COTD.. bener2 baru nehh..perasaan yg kemaren2 dah sering curhat mbak … hihihi
Okta Sihotang // Mei 24, 2008 pada 2:51 pm |
mauk ??
muntahin aja kali
dana // Mei 24, 2008 pada 3:19 pm |
Weleh iya juga ra. Bisa bahaya kalo udah merasa gitu. Nanti bunuh diri kek pengambil photo kelaparan di afrika itu lho.
faridyuniar // Mei 24, 2008 pada 3:27 pm |
Hem…absolutely setuju.. mari berdaya upaya, ndak sekedar omong doank…
serdadu95 // Mei 24, 2008 pada 4:12 pm |
dan sayup2 terdengar…..
Bersih suci murni, meninggalkan aku
Menangis tersedu, meratapi diri ini
Dimana sembunyi, nurani dimana dirimu
Ku lapar dan dahaga, merindukan nilai mulia
Kurindu belaian kasihmu
Kurindu usapan sayangmu
Oh Nurani,
Damaikan suasana dunia
Semerbak harum wangi surga
Oh nurani
(Nurani by Netral)
ghozan // Mei 25, 2008 pada 2:03 am |
kasian sekali mbak anak itu… mestinya sedang senang2nya bareng sama ortu tapi kok ditelantarkan gto yah… hiks… gak kebayang deh kalo anak2ku sampe kayak gto… huaaaa….
NB: mau nangis dulu….
niez-nya adit // Mei 25, 2008 pada 7:45 am |
hmm…
speechless…
cuma bisa kasiyan doang…uhuhhuuu…
stey // Mei 26, 2008 pada 1:36 am |
kadang saya juga ngerasa ga punya kemampuan apa2 buat menolong mereka2 yang membutuhkan, tapi bener kok mbak..big things come from tiny steps..
Chic // Mei 26, 2008 pada 3:26 am |
ternyata beda ya hasilnya kalo ada lihat dari sisi yang berbeda… hmmmmmm
kw // Mei 26, 2008 pada 4:31 am |
di lingkunganku, susah sekali untuk berempati. karena agak susah membedakan mana mana yang layak di beri empati dan tidak. apalagi sebagian dari mereka itu di jadikan komoditi..
ratutebu // Mei 26, 2008 pada 5:15 am |
panjang bgt komen tante silly ya???
*mumet*
Kapan-kapan Makan-makan « A Journal of A Not-Superman Human // Mei 26, 2008 pada 4:19 pm |
[...] * Ibu Ira [...]
Ketika Melihat Dari Sudut Karma « Sebuah Perjalanan // Mei 27, 2008 pada 3:59 am |
[...] budha, karma, Kontemplasi, Renungan, spiritual, universal Setelah membaca curhat ira yang di sini , saya menjadi tergelitik untuk membuat sebuah postingan. Ini bukanlah dimaksudkan sebagai [...]
plain love // Mei 27, 2008 pada 5:29 am |
ahh iya… bener juga kata mbak silly…
saya juga mengangap anak kecil itu sebagai objek postingan aja bukan sebagai manusia…
duh…
jadi merasa bersalah…
ahsani taqwiem // Mei 27, 2008 pada 6:17 am |
ternyata disadari atau tidak ada yang pudar dari nilai kemanusian kita sebagai manusia (ga nyambung yah) he.
salam kenal.
tabik!
suprie // Mei 27, 2008 pada 7:44 am |
terbengong, ini yang posting sebenernya si tante silly apa itik ??? :d
tapi ada bener nya kata – kata si tante, kita harus bantu, walaupun mungkin bantuan kita cuman bisa bertahan satu atau dua hari tapi seengganya kita bantu.
JoEy D`JuVe // Mei 27, 2008 pada 9:58 am |
bener2 belum dibales komennya
warmorning // Mei 27, 2008 pada 4:49 pm |
tenang, bukan berarti yg curhat itu gak serius, toh saya yakin hati ente buagus, cuma momennya emang gak mungkin utk berbuat lebiih banyak *ah ngomong apa lg sih saya*
joesatch yang legendaris // Mei 28, 2008 pada 1:07 am |
selalu ada waktu untuk tersadar, mbak. yah, namanya aja manusia; tempatnya khilaf dan lupa. makanya Tuhan juga ngasih kesempatan buat bertobat. sama aja buat tersadar, tho? ohohoho…
itikkecil // Mei 28, 2008 pada 3:52 am |
@cK
iya chik…. mau ngubah blog ini jadi tempat curhat
@edy
jadi ceritanya soal caplang melulu?
@eMina
makasih atas hiburannya
@cK & grace
mungkin bisa dimulai dengan membantu semampu kita
@takochan
padahal, ada atau tidaknya orang yang mengkoordinir mereka, anak-anaklah yang paling menderita
@ulan
saya gak tahu lan… tanya ke dinas sosial di surabaya bisa kok
@suandana
tapi saya takut, itu lama-lama akan benar-benar hilang
@silly
saya tetap berterima kasih dengan komen mbak silly, paling tidak itu sudah mengingatkan saya.
@emyou
*saya aja baru selesai merenungnya sekarang*
@Kimi
itu yang saya takutkan
@ayahshiva
saya sering melihat kejadian anak jalanan yang dipukul oleh boss mereka karena gak dapat uang. yang jadi korban tetap anak-anak kan
@ika
makanya itu membuat saya sedih
@Nike
mungkin yang bisa kita hapus itu kesenjangan yang terlalu jauh itu.
@Au’
itikkecil // Mei 28, 2008 pada 3:55 am |
@silly
setelah saya pikir-pikir lagi. anak ini menyadarkan saya kalau nasib saya tidak buruk-buruk amat
saya kan baik hati dan tidak sombong
@mansup
kalau pake mikir-mikir kayak gitu, berarti harus dipertanyakan ketulusan niatnya
@Joey D’Juve
*sambit Joey karena OOT*
@Abeeayang
makasih
@cukopara
salah satunya….
@edratna
berarti tidak cukup dengan niat ya bu
@goop
saya belajar untuk membaca bahasa gambar
@nenyok
semakin membuat saya takut karena hidup ini begitu mengerikan
@Raffael
mana???? kok saya gak pernah baca.
@daniel
salutnya disampein sama mbak silly
@goldfriend
tapi ada ketakutan tersendiri di dalam diri saya sekarang bang…. saya takut kalau akhirnya saya benar-benar menjadi orang yang ignorrant.
@Ndaru
itu juga yang jadi pertanyaan saya
@ichanx
kenapa?
@Zee
saya sedang mencari cara untuk mengasah itu.
@natazya
saya belum terbiasa
@Angelndutz
saya sudah gak nangis lagi
@sofianblue
makasih
@Sawali
makasih pak , tapi saya merasa saya hanya menganggapnya sebagai objek foto semata, tidak lebih dari itu
@amalia
jadi, tergantung niat
@harri
maksud lo????
*timpuk harri*
@Okta
sudah kebanyakan muntah di blognya tante silly
@dana
heehhh??? amit-amit.. *ketok meja tiga kali*
@faridyuniar
setuju
@serdadu95
dan nurani saya hampir mati….
@ghozan
saya yakin dirimu orangtua yang bertanggung jawab
@nieznya adiet
cup cup… jangan nangis di sini
@stey
iya
@Chic
komen mbak silly menyadarkan saya
@kw
dan kita harus pintar membedakan mana yang komoditi mana yang bukan
@ratutebu
*sodorin obat sakit kepala*
@plainlove
tapi kan dirimu sekarang sudah sadar
@ahsani taqwiem
salam kenal juga
@suprie
iya, harus bantu semampu kita
@Joey D’Juve lagi
ini kan sudah dibalas
@warmorning
makasih atas pengertiannya
@joesatch yang legendaris
berarti Tuhan masih sayang dengan saya
CY // Mei 28, 2008 pada 5:02 am |
Ngga usah cemas tik, buktinya dgn foto itu kamu sudah memancing komentar Silly, dan akibat dari komentar Silly itu banyak yg tercerahkan. Nah, dalam hal ini berarti foto kamu itu sudah menjalankan tugasnya utk menyadarkan orang yg kurang peduli selama ini. Coba bayangkan kalo kamu ga upload foto itu jadi postingan, hidup akan terus berlanjut kan.. namun jlh org yg tercerahkan tidak akan sebanyak sekarang.
tintin // Mei 28, 2008 pada 5:49 am |
humm .. sudah dihubungi mba elmbaganya ..??
Alex // Mei 28, 2008 pada 6:42 am |
ass.
yang penting niat dan tujuannya karena-NYA.
salam kenal mbak
Gelandangan // Mei 28, 2008 pada 9:55 am |
wah rame banget nih blog :d
salam kenal saja na
sagung // Mei 29, 2008 pada 4:05 am |
menata niat itu susah lho ……….
tapi perjuangan kesana takkan pernah berhenti
gajahkurus // Mei 29, 2008 pada 7:38 am |
dengan memfoto lalu dimuat di blog, itu pun sudah peduli
achoey sang khilaf // Mei 29, 2008 pada 12:32 pm |
ah moga sakit kepalanya cuma kiasan saja
alfaroby // Mei 29, 2008 pada 5:12 pm |
hidup di dunia ini gak sendirian… kita mesti bersosialisasi dengan orang lain.. saling perduli dan saling menolong sesama… tak membedakan status dan agama yang melekat sejak kita lahir…
almascatie // Mei 30, 2008 pada 2:06 am |
dari balik lensa……………
cempluk // Mei 30, 2008 pada 7:27 am |
saya masih bingung mana ttg foto2 yang dimaksud..tapi akan saya cari tau…
kok jadi mendadak sakit kepala dan muak dengan kemunafikan di dunia nyata ?? hidup itu bergulir dan apapun akan kita rasakan..ikhlas, syukur, sabar kan membuat kita bahagia… *sori oot*
Resi Bismo // Mei 30, 2008 pada 8:33 am |
paling tidak kita sebagai blogger suah turut aktif dalam mengangkat fenomena dijalanan walau hanya tulisan, tapi justru dengan tulisan akan banyak yang terketuk hatinya untuk memberikan partisipasi.
kagendra // Mei 30, 2008 pada 9:15 am |
WADUHHH BUKAN BRARTI TERUS MORATORIUM KARYA LOH YA!
PERENUNGAN ITU PERLU, TAPI JANGAN LAMA LAMA OK!
KEEP OON POSTING DAN KEEP ON SHOOTING
SEORANG JURNALIS SEJATI KADANG HARUS JADI PRIBADI YANG TAK BERPERASAAN DAN KALAU SAMPAI ADA KONFLIK PERASAAN YA ITU RISIKO JURNALIS (THE PRICE WE PAY!)
KETAKBERPERASAANNYA KITA TAK DAPAT DIUKUR DENGAN SECARA SEDERHANA DENGAN PENGGARIS 30 cm AN
ITU DALEM BANGET DAN BUTUH PERENUNGAN
SELAMAT MERENUNG
SEE YOU ALL
Nazieb // Mei 30, 2008 pada 11:07 am |
At least you’ve made them know
t i n i // Mei 31, 2008 pada 2:16 am |
Tindakan nyata memang akan lebih membantu ya mbak.
Thanks udah memposting masalah ini.
Ahh..serasa kena tabok juga nih.
nindityo // Mei 31, 2008 pada 4:59 am |
terkadang apa yang kita anggap biasa malah menjadi luar biasa dimata orang lain. intinya lakukan aja apa yang bisa kita lakukan dan biarkan.
biarkan menjadi terang bagi yang memahami.
dan biarkan juga menjadi sampah bagi yang tidak paham.
hormat buat itik kecil..
*tegaaak graak*
Ryan // Mei 31, 2008 pada 5:02 am |
Alow all yg ada di sini lam kenal ya dari Ryan wong kito, btw asyik nih ada community wong kito, btw communitynya apa neh?gimana caranya gabung ke community, sebelumnya kenalkan saya Ryan sekarang berdomisili di bogor. Klo yang nyasar ke bogor bisa kontak2 aja.
cheeerss
Ryan
eko_fishtech@yahoo.com
02519282584/081318582548
diorockout // Mei 31, 2008 pada 9:56 am |
tu yang di blockquote kok panggilnya tik, ntar keliru tutik lho..
FAD // Mei 31, 2008 pada 3:36 pm |
Pergi ke tempat kumuh…ke Kampung…Ke Desa…Ke Gunung…itu perlu untuk menjaga empati
owbertku // Juni 2, 2008 pada 7:16 am |
hmmm . . . . .
tapi kalo mba nulis kaya gitu berarti mba orang yang berhati peka . . . .
gak kaya obet yang B E B A L . . .
hehehehe
iis // Juni 2, 2008 pada 1:34 pm |
hm….bener jg Niez_nya adit,
hari gini! ga usyah banyak komen ah
Tunjukin “kita mang peduli kok”
Satrio // Juni 3, 2008 pada 6:18 am |
yang dialami oleh mbak itu normal, wajar bagi manusia.
yang tidak normal adalah ketika rasa itu hilang sama sekali.
bersyukur karena rasa itu maish ada di hati.
keadilan itu bukan sama rata atau sama rasa, walau terkadang memang demikian adanya.
escoret // Juni 4, 2008 pada 3:55 am |
setuju…!!!
BUBARKAN FPI..!!!!!
*ini bahas FPI bukan..???*
236 « Itik Kecil // Juni 4, 2008 pada 7:21 am |
[...] buat komentarnya di postingan curhat saya yang tidak mutu itu… terutama buat akang ini atas komennya di sini. Tapi saya tidak apdet postingan bukan karena [...]
itikkecil // Juni 9, 2008 pada 9:22 am |
@CY
makasih CY
@tintin
saya masih sibuk
@Alex
salam kenal juga
@Gelandangan
salam kenal kembali
@sagung
itu yang susah buat saya
@gajahkurus
tapi apakah sudah cukup peduli
@achoey sang khilaf
saya memang sakit kepala beneran
@alfaroby
saya setuju
@almas
kenapa?
@cempluk
makasih atas sarannya
@Resi Bismo
iya…..
@Kagendra
saya sakit beneran kang
@Nazieb
heeh
@tini
bukan saya yang nabok…..
@nindityo
makasih…
@Ryan
salam kenal. untuk wongkito coba ke sini
@diorockout
gak bakalan keliru… itu saya anggap panggilan sayang kok
@FAD
setuju….
@owbertku
biasanya yang bilang bebal itu malah gak bebal
@iis
iya
@satrio
makasih
@escoret
duh… yang oot….
anginbiru // Juni 21, 2008 pada 6:42 am |
hoh,, yakin postingan kayak gini nggak penting..? paling nggak ada pesan moral di paragraf terakhir kok.. hoho..
itikkecil // Juni 27, 2008 pada 3:23 am |
@anginbiru
japspress // Juli 8, 2008 pada 5:39 pm |
setuju dengan mas angin biru
senada dengan mba itik kecil, semakin lama semkin takut kehilangan empati karena menganggap hal seperti demikian biasa saja. salam kenal mba
itikkecil // Juli 9, 2008 pada 4:40 am |
@jaspress
salam kenal juga. ini memang hal yang saya takutkan