Beberapa hari yang lalu saya kebetulan mengantarkan seorang perempuan yang punya masalah dalam rumah tangganya ke WCC atau Women Crisis Center. WCC adalah satu LSM yang punya kepedulian terhadap masalah perempuan dan anak terutama korban kekerasan berbasis gender.
Perempuan ini sebut saja namanya Betty mengadu karena sudah satu tahun ini suaminya tidak mempedulikan anak dan dirinya lagi. Sudah satu tahun (menurut versi dia) si suami tidak memberikan nafkah lahir apalagi batin. Menurut beberapa orang si suami berselingkuh dengan teman satu kantornya. Sayangnya saya kenal dengan dua-duanya
. Dan parahnya lagi ketika perempuan selingkuhannya ditegur si perempuan malah menyuruh Betty untuk instropeksi diri kenapa suaminya sampai berselingkuh.
Walaupun saya cengeng, tetapi saya juga tidak tahan melihat orang lain menangis. Dan mendengarnya menangis saya jadi ikut sedih. Ok, saya belum menikah, dan saya juga belum pernah mengalami yang namanya masalah dalam rumah tangga. Saya paham, ada masanya kita jenuh dengan pasangan kita. Tetapi kalau sampai mengabaikan istri apapun alasannya, rasanya saya kok tidak bisa terima ya. IMHO, kalau saya sudah memutuskan untuk menikahi seseorang itu artinya saya harus bisa menerima kekurangan pada orang itu dan tidak meninggalkannya hanya karena saya menemukan orang lain yang mungkin lebih sempurna. Ini bisa saja diperdebatkan karena kalau sampai pasangan saya memukuli saya, saya pasti akan meninggalkannya, tapi tetap saja itu bukan alasan untuk berselingkuh.
Ada saja alasan ataupun pembenaran kenapa orang berselingkuh, tetapi menurut saya berselingkuh adalah perbuatan curang. Apalagi kalau sampai mengabaikan pasangan. Saya memang cuma mendengar cerita dari satu pihak saja. Tidak mendengar pembelaan ataupun penjelasan dari pihak laki-laki, tetapi menurut saya kalau misalnya memang di pernikahannya ada masalah – yang umum dijadikan alasan untuk melakukan perselingkuhan – kenapa tidak masalahnya diselesaikan terlebih dahulu. Apakah mau memperbaiki kalau ada kesalahan dari masing-masing pihak atau yang paling ekstrem – bercerai sekalian. Jadi selesaikanlah semua masalah yang ada, baru membuat hubungan baru dengan orang lain, bukannya malah berselingkuh.
Disadari atau tidak, mendiamkan apalagi menelantarkan pasangan termasuk dalam kekerasan dalam rumah tangga.
Itikkecil and a domestic violence
Januari 20, 2009 · & Komentar
Kategori: My Job · curhat of the day
Ditandai: keluarga, kesetiaan, selingkuh






43 tanggapan so far ↓
Nike // Januari 20, 2009 pada 5:27 am |
saya sadari saya suka nyubitin suami…
tapi kan ya, cubitan sayang
itikkecil // Januari 20, 2009 pada 5:42 am |
@Nike
ah itu kan beda Ke…
*ngeri dicubitin juga sama Nike*
edy // Januari 20, 2009 pada 5:44 am |
makanya buruan nikah
itikkecil // Januari 20, 2009 pada 5:48 am |
@edy
menikah untuk kemudian mengalami domestic violence? not in a million years honey….
edy // Januari 20, 2009 pada 5:50 am |
bukan, tapi untuk mengalami yang namanya masalah dalam rumah tangga
itikkecil // Januari 20, 2009 pada 5:52 am |
@edy
memangnya harus menikah untuk mengalami masalah dalam rumah tangga ?
edratna // Januari 20, 2009 pada 6:05 am |
Sebetulnya yang dipentingkan selain “cinta” (yang sulit didefinisikan) adalah adanya komitmen.
Dan pada saat seseorang mulai merasa nggak beres, ada lembaga atau konsultan yang melakukan pembimbingan. Dari kedua pihak akan dipanggil, dan didengarkan apa uneg2nya. Tapi semua tergantung pada keinginan pasangan, apakah mereka masih sama komitmennya seperti pada awalnya?
itikkecil // Januari 20, 2009 pada 6:09 am |
@edratna
kalau istrinya masih cinta bu… masih berharap suaminya mau berubah. tapi entahlah kalau dari pihak suaminya, kami masih berusaha mengontak si suami.
chic // Januari 20, 2009 pada 6:24 am |
oooow… pengen nampar tuh perempuan selingkuhan itu rasanya
Juminten // Januari 20, 2009 pada 6:27 am |
kasian bgt istrinya…
tp aku lebih prihatin lg sama anak2nya.
ga kebayang kalo aku punya ayah spt itu…
AngelNdutz // Januari 20, 2009 pada 6:29 am |
si cowok selingkuh itu karena dia nggak mau kehilangan kedua2nya. di satu sisi dia mencintai selingkuhannya, tp di sisi lain dia jg gak bs memungkiri kalo masih cinta sama istrinya…jadinya 22nya pengen diembat. egois tuh!!
ahsinmuslim // Januari 20, 2009 pada 8:03 am |
Istri adalah amanah bagi seorang suami, layaknya anak yang merupakan titipan Allah Ta’ala untuk kedua orang tua. barang siapa menyia-nyiakan mereka, maka tiada lain baginya selain neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu. naudzubillah…
desty // Januari 20, 2009 pada 8:40 am |
Sebenarnya si selingkuhan ada benarnya juga. Si istri sebaiknya intropeksi diri mengapa suaminya selingkuh. Bersamaan dengan intropeksi itu,ada komunikasi antara suami dan istri dalam mencari jalan keluar.
Tapi saya setuju dengan mbak ira, selingkuh itu perbuatan curang, lari dari tanggung jawab. mungkin karena tidak mau disalahkan dalam komunikasi suami-istri, si suami akhirnya mencari pelarian…
anggara // Januari 20, 2009 pada 9:16 am |
domestic violance ini terjadi karena masih kuatnya budaya patriarki, selain itu perempuan yang tidak bekerja sangat rentan masuk dalam kekerasan ini
hawe69 // Januari 20, 2009 pada 10:47 am |
IMO, cerai aja kalo udah main kekerasan.. gak ada artinya lagi berumah tangga kalo masalah di’bahas’ dengan ‘tangan’ bukan dengan mulut dan kepala dingin.
tukangobatbersahaja // Januari 20, 2009 pada 11:19 am |
peran mediasi sangat diperlukan saat ini. Mudah-mudahan bisa baikan lagi. Ingat tujuan menikah itu untuk berbahagia.
mikekono // Januari 20, 2009 pada 11:46 am |
sekarang tak cuma suami
saja yang selingkuh,
istri juga bnyk melakukannya
bumi makin panassss
goldfriend // Januari 20, 2009 pada 12:27 pm |
Kekerasan psikologis dalam RT itu yang paling sulit diketahui, Ra. Kalau kekerasan fisik atau seksual bisa dilihat tanda luarnya, tapi kekerasan psikologis itu susah.
Sudah pernah baca buku After the Affair ? Itu buku bagus buat tahu apa arti selingkuh dan akibatnya.
kishandono // Januari 20, 2009 pada 12:37 pm |
saya ga mau menerlantarkan pasangan…
Takodok! // Januari 20, 2009 pada 1:43 pm |
Kasian anaknya…
ario saja // Januari 20, 2009 pada 2:38 pm |
waduh yang seperti ini aku ga begitu ngerti
jensen99 // Januari 20, 2009 pada 6:04 pm |
IMO Betty itu susah ditolong. Menegur si selingkuhan itu ide yang buruk. Bukan salah dia.
Kalo sayang status ya bertahan saja, sambil berusaha membuat suami kembali mencintai.
Kalo sayang diri ya minta ketegasan, toh selingkuhnya sudah terang2an ketahuan.
Epat // Januari 20, 2009 pada 6:33 pm |
sesungguhnya manusia diciptakan berpasang-pasangan…
kalimatnya berpasang-pasangan, bukan berpasangan!
hahahaha *nyungsep*
maskoko // Januari 20, 2009 pada 10:51 pm |
Kl ga salah salah satu staf WCC ada yg bernama yeni, betul ga’
ansella // Januari 21, 2009 pada 3:41 am |
apa pun alesannya saya tetep ga setuju dengan perselingkuhan, lebih baik bikin keputusan akhir sebelum memulai hubungan yang baru, kasihan anak2 kan
‘ getokin wanita dan suami nyebelin itu’
‘esmoni – bosen jenuh trauma dengan topik selingkuh’
zee // Januari 21, 2009 pada 4:06 am |
Setuju. Menelantarkan, memarahi, menyakiti hati, itu termasuk KDRTA. Mustinya perempuan itu tidak usah ditegur, namanya juga monyet, kalo dimarahin malah merepet kan?? :p~
Tp ini sudah lapor kan ya? Klo perlu lapor ke polisi dgn tuduhan kumpul kebo biar 2-2nya masuk sel. Jgn pernah maafkan laki2 yg sudah ketauan selingkuh. G ada jaminan mereka akan berubah…..
Bilang sabar utk temennya yaa…
kahfinyster // Januari 21, 2009 pada 5:50 am |
waduh,kalo udah kaya gitu cere aja mah,,
bukan manas2in yah,,
eniwei,,
daftar ibsn yuk di sini,, trus logonya ambil di sini,,
berbagi tak pernah rugi,,salam ibsn,,
cK // Januari 21, 2009 pada 5:59 am |
seharusnya si suami mencoba mengajak berbicara istrinya, bukan memberi tebak-tebakan mengenai kesalahan sang istri. kalau memang ada kekurangan dalam hubungan tersebut, seharusnya dibicarakan berdua, bukan langsung cari pelarian.
sangat tidak bijak…
inilah yang kadang membuat orang takut untuk berkomitmen…
sucikeren // Januari 21, 2009 pada 6:03 am |
yup. saya juga belum pernah mengalami hal yang sama. tapi ya pendapat saya sama dengan itik kecil. apapun alasannya perselingkuhan itu menurut saya tetep gak bisa diterima
emfajar // Januari 21, 2009 pada 1:03 pm |
kasian anaknya yah klo udah terjadi kayak gitu
alris // Januari 21, 2009 pada 4:20 pm |
Kuncinya pegang komitmen awal pernikahan. Menurut saya mungkin ada yang salah disalah satu pasangan, dua-duanya intropeksi. Heran, tuh wanita pengganggu kok suka sama suami orang, apa gak laku lagi sama yang bujangan.
serdadu95 // Januari 21, 2009 pada 10:53 pm |
buwat nyang suka slingkuh, nihh ada persembahan puisi dari saya. klik ajahh tautan dibawah inihh…
http://serdadu95.wordpress.com/2008/02/22/puisi-selingkuh/
Raffaell // Januari 22, 2009 pada 12:53 am |
Welll…..
Menurutku ya….
Contoh:
–> Kamu tidak boleh berselingkuh!!!
ini adalah perintah, dan ini adalah ketetapan yang seolah olah ini menjadi kewajiban……
Tapi gimana kalau kita ganti pola fikirnya jadi:
” aku yang buat kamu jadi ga selingkuh ? ”
Gimana ?
-GoenRock- // Januari 22, 2009 pada 1:30 am |
Cerita hampir mirip yang diceritaken dan dan dialami oleh sahabat saya sendiri beberapa hari lalu *sigh*
Koko // Januari 22, 2009 pada 2:38 am |
lawan aja…api dengan api..
itikkecil // Januari 22, 2009 pada 6:20 am |
@chic
saya juga tuh…
@Juminten
kalau seperti ini yang jadi korban biasanya anak-anak
@AngelNdutz
kalau istrinya juga diperhatikan sih mendingan. yang ada malah dicueki sama sekali
@ahsinmuslim
*berharap si suami membaca komen ini*
@desty
bagaimana mau instropeksi diri kalau ditegurpun tidak oleh si suami?
@anggara
iya, biasanya yang tidak bekerja malah tidak berdaya karena sangat tergantung dengan suami
@hawe69
si istri masih berharap suaminya mau berubah
@tukangobatbersahaja
saya juga berharap begitu, kasihan anak-anaknya
@mikekono
saya juga tidak mengerti kenapa mudah sekali orang memutuskan untuk berselingkuh sekarang
@goldfriend
setuju bang, biasanya orang tidak terlalu peduli dan menganggap itu hal biasa. dan mertua Betty juga hanya berkomentar kalau penderitaan Betty tidak sebanding dengan penderitaan mertuanya dulu
Saya belum baca buku itu, tapi saya tahu dampak dari selingkuh… sampai sekarang saya jadi tidak percaya diri dan cemburuan
@kishandono
bagus itu
@Takodok
iya
@Ario saja
hooo…
@jensen99
saya juga setuju, yang patut disalahkan adalah suaminya. tapi saya tetap tidak setuju dengan orang yang mau berhubungan dengan orang yang sudah punya pasangan
@Epat
*tendang Epat sampai ke pulau Kemaro*
@maskoko
iya
@ansella
sabar Sel…
@zee
sayangnya istrinya masih takut untuk melaporkan suaminya ke polisi. kami masih berusaha melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan suaminya
@kahfinyster
perceraian mungkin adalah alternatif terakhir
@cK
hooo…
jadi itu alasannya dirimu takut berkomitmen Chik?*dirajam Chika*
@sucikeren
setuju
@emfajar
iya
@alris
harusnya instropeksi diri dulu.. tapi entahlah, ada aja perempuan yang suka mengganggu rumah tangga orang lain
@serdadu95
saya gak suka selingkuh om…
@Raffaell
masalahnya si suami sedang mabok dengan perempuan lain tuh
@Goenrock
bilang temennya untuk sabar ya…
@Koko
kalau ribut malah kasihan dengan anaknya…
CDMA EVDO Rev A // Januari 22, 2009 pada 9:21 am |
.
No Comment !!!
Ade // Januari 24, 2009 pada 6:35 am |
Kalo hp seh emang enakan beli baru lagi daripada benerin yg rusak
ario saja // Januari 24, 2009 pada 3:01 pm |
masuk KDRT ya bos
CINTA (episode 1) « wak AbduLSomad // Januari 30, 2009 pada 2:54 am |
[...] itik kecil, landy [...]
putrago // Februari 10, 2009 pada 2:56 pm |
itik kecil salam kenal aja ya
mas stein // Februari 25, 2009 pada 3:37 am |
sebenernya ndak cuma wanita saja lho yang jadi korban KDRT, di radar malang (grupnya jawa pos) pernah ada suami lapor pak pulisi karena merasa dikerasin secara psikologis sama istri.
Dhian Ratnasari // Juli 4, 2009 pada 1:19 pm |
beberapa waktu yang lalu, teman saya menemukan bahwa ada seorang istri (ya, istri yang masih terikat dalam sebuah ikatan pernikahan) yang masih saja tergila-gila pada bekas pacarnya – yaitu pria yang kini menjadi suami teman saya itu.
Sebenarnya saya kasihan dengan wanita pengganggu itu karena segitu tidak kesampaiannya dia mengejar suami teman saya. Notabene, alasan wanita pengganggu itu menikah adalah agar tidak keduluan nikah oleh bekas pacarnya…akhirnya dia asal sambar saja sedapatnya…and she ends up disturbing other people’s marriage… Herannya, kok dia gak ada rasa malu sedikitpun karena telah membuat gejolak di RT teman saya…
Saya kasian dengan teman saya, tapi saya juga kasian dengan wanita pengganggu itu karena ia tidak menyadari bahwa ego-nya telah berkembang menjadi obsesi…sakit jiwa alias maniak…
Anyway, buat yang masih ingin memperbaiki pernikahan mereka yang telah dikacaukan oleh perselingkuhan/kebohongan, silahkan coba browsing halaman dari http://www.truthaboutdeception.com
Bagus banget cara ngebahasnya…semoga membantu…