Remaja bertanggung jawab

Slogan remaja bertanggung jawab adalah slogan yang dari dulu sampai sekarang selalu dielu-elukan organisasi tempat saya mengabdikan diri sekarang. Dulu, saya sempat mentertawakan slogan ini. karena, jujur saja menurut saya slogan ini begitu gombal. tapi sekarang sepertinya saya harus mengubah pola berpikir saya.

Ketika saya menghadapi curhat seorang remaja akhir (maksudnya sudah berusia 24 tahun) yang ngotot untuk aborsi karena hamil di luar nikah dan menghadapi banyak kendala antara lain karena beda agama dengan pasangan, takut menghadapi keluarga dan lingkungan dan akhirnya memutuskan untuk aborsi.

Dalam banyak hal saya memang terbuka, saya tidak peduli dengan orientasi seks seseorang. saya juga tidak peduli apakah orang itu mau melakukan seks di luar nikah. tapi dalam hal ini, saya pro-life. saya amat menentang aborsi. oleh karena itu dalam satu jam percakapan dengan klien yang satu ini, saya berusaha untuk meyakinkannya untuk tetap mempertahankan janinnya. dan sia-sia.

Sebelum menghadapi klien tersebut, saya berdiskusi dengan seorang kolega tentang kasus seperti ini. dan saya sepakat dengan teman saya tersebut. “Harusnya seseorang berani menghadapi konsekuensi dari perbuatannya”.

Setelah itu saya jadi berpikir banyak. klien tersebut tidak berani menghadapi keluarga dan lingkungannya. dan karena itu memutuskan untuk membuang janin yang sudah tumbuh di perutnya. berarti dia tidak mau mengambil tanggung jawab dari perbuatan yang sudah dilakukannya.

Saya sadar kalau konsep remaja bertanggung jawab tersebut memang mudah untuk diucapkan tetapi amat sulit dilakukan. seandainya seorang remaja benar-benar bertanggung jawab, remaja tersebut tidak akan melakukan hal-hal yang beresiko terhadap dirinya sendiri termasuk melakukan hubungan seks di luar nikah.

Dan akhirnya saya jadi lebih menghargai seorang Sheila Marcia yang berani untuk meneruskan kehamilannya walaupun menghadapi banyak kendala.

41 gagasan untuk “Remaja bertanggung jawab

  1. @aRuL
    dalam kasus ini sepertinya saya harus setuju Rul. saya sedih karena saya sudah gagal.

    @Ando-kun
    sayangnya orang seperti dia jadi idola anak muda. kalau dia tidak mau bertanggung jawab dan ditiru oleh remaja lain, itu patut disayangkan…

  2. Saya socially liberal, tapi kalau kasus aborsi ada di tengah-tengah, case-per-case. Kalau kasusnya seperti ini kok saya setuju dengan Mbak Ira. Masa si anak yang mesti berkorban nyawanya gara-gara kecerobohan orang tuanya. Kok terdengar judging ya?

    @jensen99
    Saya sering bingung, situ itu konservatif apa liberal sih? Kok ekstrim di dua-duanya. :mrgreen:

  3. @jensen99
    that’s up to you man…

    @lambrtz
    iya, kalau alasannya medis saya masih bisa terima. cuma kalau aborsi hanya karena takut dengan kemarahan orangtua dan digunjingkan lingkungan, it feels not right..

  4. saya pro link *lah*
    (doh)

    mbak ira jangan kelamaan stressnya *hugs*

    Soal si remaja, poor her, poor the baby. Kalaupun lahir, dan ternyata si ibu malah menyalurkan kemarahan ke si anak, makin disesalkan ya?
    :|

    • dalam kasus ini terjadi dilema. kalaupun dia tetap mempertahankan bayinya, seperti komenmu bagaimana dengan masa depan anaknya nantinya… mungkin dia belum pernah nonton film Juno.

  5. “Harusnya seseorang berani menghadapi konsekuensi dari perbuatannya”

    sepakat banget, mbakyu. ini poin paling penting dalam kehidupan seseorang, yaitu etika moral berupa tanggung jawab.

    kalo enggak bisa memenuhi poin ini, mending kaga usah menjalani hidup! :D

    • idealnya memang seperti itu. tapi seperti komentar Chic. masih banyak yang tidak berani menghadapi konsekuensi perbuatannya. apalagi kalau ada celah untuk melarikan diri.

  6. “Harusnya seseorang berani menghadapi konsekuensi dari perbuatannya”.

    Teori-nya begitu… Tapi emangnya ada manusia yang benet-bener berani menghadapi konsekwensi?

    Honestly saya pun terkadang ikhlaf dan melarikan diri dari konsekwensi. Well, I am human, not a dancer :mrgreen:

  7. Contoh kayak gini nggak bisa disebut sebagai remaja bertanggungjawb. Pro choice sih boleh-boleh aja selama itu dilakukan untuk menyelamatkan nyawa dirinya sendiri. Tapi kalau ibu ini sehat-sehat aja dan dia melakukan aborsi hanya semata-mata karena malu, itu sama saja membunuh.

    Saya mendukung Shiela Marcia. Hujatan akan berlalu suatu hari nanti, tapi dosa atas pembunuhan adalah dosa yang tidak bisa terhapuskan.

  8. Kadang keputusan itu sulit diambil karena anak merasa orang tua tidak akan mengerti dan tidak akan paham atas kejadian yg menimpa dirinya. Mgkn ortu lebih suka anaknya menghilang saja selama dua tahun dibandingkan harus malu sama org kampung.
    Kalo Sheila, beruntunglah dia krn punya ibu yang selalu menerima dia apa adanya. Meskipun anakny terperosok atau salah, tapi sang ibu tetap menerimanya kembali.

  9. Membayangkan betapa kuatnya Ira, yang setiap hari menghadapi keluhan remaja…ini hal yang tidak mudah lho.
    Memberi nasehat tanpa mengakimi, memberikan berbagai alternatif solusi….

    Saya ingat teman baik saya, yang cantik, saat itu SMP kelas 3..dia hamil dengan pacarnya yang sekolah di STM. Karena dia anak tunggal, ayah ibunya keberatan menerima pacarnya yang juga masih sekolah, akhirnya aborsi. Teman saya bisa melanjutkan hidupnya, menikah dengan seorang dosen di Yogya…namun tak punya anak..sedihnya :((

  10. Sebenarnya melakukan Aborsi sudah merupakan tindak pidana dan juga setahuku agama apapun pasti melarang untuk aborsi.
    hewan saja tidak perna melakukan aborsi, apalagi kita manusia……………….

  11. sangat disayangkan dengan keputusan yang diambil oleh remaja tersebut, soalnya semarah marah nya orang tuanya dengan dia, tapi kalo udah liat wajah imut sang pasti akan luluh juga.
    udah banyak contoh nya kok

  12. double-double dosa.

    kacau.berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak akan lebih baik.jika memang sudah terjadi,ya harusnya terima saja apa yang ada.
    klo begitu kondisinya yang ada,malah tambah masalah.memang dengan dia menggugurkan tu bayi bakal selesai masalah.oh no,..malah tambah numpuk.

    pasal bisa berlapis.hihi.kasihan hidupnya remaja itu.

  13. Konsekuensi dari perbuatan yang melibatkan satu nyawa yang tidak berdosa, Berat…

    * dan disinilah aturan-aturan yang nampak keras dari agama tentang topik seperti ini,
    akan terdengar ringan *

    * dan bagaimana anak bisa ketakutan membagi hal seperti ini sama orang tua, beban rasa salah dan rahasia kaya gini berat banget buat disimpan sendirian *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s