#310 tentang mantan

Beberapa hari yang lalu, seseorang teman pernah curhat dengan saya. “mantankuh yang itu kan sudah punya pacar lagi. dan ternyata dia ngajak ketemuan ketika tahu aku juga hadir di resepsi pernikahan teman kami berdua. sebenarnya sih males buat ketemu. tapi nanti takutnya dikirain belum bisa move on.”

Dalam perjalanan percintaan saya *tsah bahasanya*, jumlah mantan-mantan saya bisa dihitung dengan sebelah tangan saja. kalau yang pas puppy love gitu gak perlu dihitunglah. Jadi sepertinya interaksi saya dengan mantan bisa dikatakan jarang-jarang amat. kecuali dengan mantan yang tetanggaan dengan saya ituh… untunglah dese sudah pindah ke rumah sendiri jadinya paling ketemu setahun sekali *eh*.

Tapi yang menurut saya menarik adalah kekhawatiran teman saya bahwa malas ketemu mantan itu nantinya akan dianggap belum bisa move on. Ada yang bilang sih bahwa harusnya dengan mantan itu kalau bisa sebaiknya berteman saja. saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat ini. harusnya dilihat kasus per kasus. kalau mantannya bajingan dan bawaannya jadi pengen nabok setiap kali ketemu mendingan gak usah ketemu kali ya… *uhuk*. Lagipula banyak alasan orang untuk tidak ketemu mantan. bukan soal belum bisa muv on. ada yang malas ketemu mantan karena berpendapat bahwa masa lalu tak perlu dikenang lagi #eaaa. adapula yang tidak mau menyinggung perasaan pacar barunya. atau ada yang mau menambahkan kenapa kalian tidak mau bertemu mantan. Tapi hal ini bukan berarti yang mau ketemu mantan tidak baik. justru saya mengagumi kebesaran hati kalian, apalagi kalau misalnya sebelumnya sudah disakiti oleh si mantan itu.

Saya mendeskripsikan diri saya sebagai self-centered person. jadi yang terpenting adalah kebahagiaan saya sendiri. oleh karena itu menurut saya apapun yang harus saya lakukan harusnya membuat saya nyaman. tentu saja hal ini tidak perlu ditiru oleh orang-orang yang bercita-cita menjadi miss congeniality. Buat saya, tak peduli orang lain mau mengatakan apa, selama hal itu mengganggu saya lebih baik saya hindari. Untuk apa saya berpura-pura baik tapi di dalam hati saya malah ingin menikam orang tersebut. atau berpura-pura berbesar hati dengan bertemu dengan mantan padahal dalam hati bawaannya pengennya nabok. FYI, saya tidak keberatan bertemu dengan mantan-mantan saya looo. Itu cuma sekadar contoh saja *uhuk lagi*.

Tapi saran saya buat teman saya ini, jangan pedulikan kata orang. siapa bilang tidak sudi malas bertemu mantan pasti belum bisa move on. banyak contoh kok yang sudah menggandeng pacar baru tapi masih tetap terbayang-bayang mantannya. Jadi sebaiknya lakukan apa yang akan membuatmu merasa nyaman. Atau makan tuh gelar miss congeniality meskipun dalam hati malah merintih perih.

9 thoughts on “#310 tentang mantan

  1. Yup, dibuat senyaman mungkin aja. Kalau alasan agar tidak dibilang “belum bisa move on” mmm…kasihan ah membohongi diri sendiri, soalnya justru terasa memang belum bisa move on :D

  2. Pertanyaan simple saya adalah …
    Kenapa sih sang mantan itu ngajak ketemuan-ketemuan lagi ?
    Ada hal penting yang harus dibicarakan berdua saja ?
    Kenapa nggak dari dulu begitu ??

    hahaha

    Salam saya Tik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s